videokeman mp3
Only Hope – Mandy Moore Song Lyrics






3 Ilmu Yang Wajib Dicari

Ilmu yang wajib dicari -Qur'an dan Hadist

qur'an-wallpaper
Ada dalil" Tolabul ilmi faridlotun ala Kulli Muslim" artinya Mencari ilmu wajiba tas tiap tiap orang islam. Pertanyaannya adalah ilmu yang manahkah yang wajib dicari? Apakah ilmu dunia ini seperti ilmu matematika, ilmu kedokteran , ilmu teknik dan sebagainya. Bila melihat dalil tadi jelas bahwa disitu ada kalimat "wajib" artinya suatu amalan yamg bial dilaksanakan akan mendapat pahala dan sebaliknya bila tidak dikerjakan akan mendapat dosa. Sekarang coba bayangkan bila ilmu yang diwajibkan adalah ilmu yang bersifat keduaniaan seperti diatas maka banyak orang akan mendapat dosa contoh ketika orang sudah menuntut ilmu politik maka dia harus diwajibkan menuntut ilmu kediokteran dan ilmu ilmu lainya, terus berapa biaya yang akan dikeluarkan? bagaimana dengan pak tani maka mereka juga wajib menuntut ilmu kedokteran denagan apa mereka menyontik apakah dengan pacul? Berarti kalau ilmu yang wajib dicari dalam ayat itu di artikan ilmu keduniaan itu maka hambir semua manusia tidak akan bisa dan berdosa semua.
Dalam hadist di jelaskan" Al ilmu tsalatsatun wa ma siwa fahuwa fadlun, Ayatatun mukhamatun,Sunatun Qoimatun,au faridlotun adilatun"
Artinya: Ilmu itu ada tiga selain tiga itu adalah lebihan ( boleh dicari boleh tidak , dicari lebih utama), yaitu:
1. Ayat yang menghukumi (al Qur'an)
2. Sunnah yang tegak (Al hadist/ sunnah Nabi)
3. Ilmu bagi waris yang adil
dari dalil di ats jelas bahwa ilmu yang wajib di cari ada tiga yaitu alqur'an al hadist, dan ilmu bagi waris. Khusus ilmu bagi waris sudah ada dalam qur' an dan hadist, jadi kita cukup mempelajari atau mengkaji qur'an dan hadist. Bila kita amalkan iNsyallah tidak berat, tidak memerlukan biaya yang besar, dan semua orang bisa mengamalkan dan mempelajarinya. Artinya tidak memberatkan. Sebenarnya kalau kita mau mengaji kita akan pandai dan terhindar dari bid'ah serta Taklid (mengikuti amalan tanpa tahu ilmunya)dan kita tidak akan asal mengartikan suatu dalil.



3 ILMU YANG WAJIB DICARI

Qolaa Rosululloh SAW : "Tholabul 'ilmi faridlotun 'ala kulli muslimin. Wain tholabul 'ilmi yastaghfir lahu hattal hitani fil bahri.
Bersama Rosululloh SAW : "Mencari ilmu itu wajib bagi orang islam. Dan apabila mencari ilmu, sungguh memohonkan ampun segala sesuatu, sampai ikan-ikan di lautan".

Apabila kita mencari ilmu dengan niat melaksanakan perintah Allah dan Rosululloh, maka segala sesuatu dan makhluq-makhluq di dunia ini memohonkan ampun kepada kita. Demikian utama dan pentingnya ilmu bagi manusia.

Adapun ilmu yang wajib diketahui ummat Islam adalah 3 (tiga) yaitu :
1) Ilmu ushuluddin, ilmu tauhid atau ilmu aqoid yang bersumber dari rukun Iman yang jumlahnya ada enam.
2) Ilmu feqih, ilmu syari'at yang sumbernya dari rukun Islam yang jumlahnya ada lima.
3) Ilmu tasawuf atau ilmu akhlaq yang bersumber dari rukun Ihsan yang jumlahnya ada satu yaitu : Beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah, apabila belum bisa melihat Dia harus kamu selalu merasa dilihat oleh-Nya.

Namun pada umumnya ilmu tasawuf banyak dilupakan dan dianak tirikan di negeri ini, padahal Rosul sendiri menyatakan :
"Wajib atas kamu untuk bertasawuf, dengan tasawuf kamu akan merasakan lezatnya iman di dalam hatimu".

Sayid Sabiq juga berkata : Ilmu tasawuf itu adalah bagian ilmu agama Islam, bahkan ilmu tasawuf itu adalah jiwanya Islam dan berliannya Islam.

Bisa dibayangkan, bagaimana beragama Islam tanpa tasawuf maka tidak akan bisa merasakan nikmatnya beragama Islam dan Islam tidak akan ada jiwanya dan lambat laun sinar Islam akan pudar dan tidak akan bernilai.

Mengenai hubungannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi demikian : Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Kasih Sayang, Maha Agung, Maha Ghaib, Maha Dhohir. Untuk membuktikan ke Maha Agungan Allah tersebut : Allah menciptakan alam semesta. Apa yang dikatakan alam? Dalam kita Ummul Barchin : “Al 'Alam ma'khudzun minal 'alamat" artinya kalimat alam itu diambil dari kata Alamat yang artinya "tanda" atau tanda bukti adanya Allah Ta'ala, dan segala sifat ke-Agungan Allah.

Nah dari alam inilah munculnya bermacam-macam ilmu pengetahuan dan teknologi. Inipun karena manusia dibekali alat oleh Allah yang namanya Aqal.

Jadi Allah Ta'ala menurunkan dua macam kitab yang menjadi sumber segala ilmu, yaitu :
1. Kitabul Kaun yaitu kitab alam semesta ini atau disebut Sunnatulloh.
2. Kitabul Kalam yaitu Kalamulloh yang tersebut dalam kitab suci Al-Qur'an.
- Mana yang penting? Kedua-duanya adalah sangat penting. Tapi kita sebagai manusia yang beragama harus tahu mana yang paling baik bagi kita. Perhatikan dalil-dalil di bawah ini :
a) Dalam hadits Nabi disebutkan : "Khoirunnasi anfa'uhum linnas"
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."
b) Allah berfirman dalam surat Asy-Syu'aro' ayat 88 dan 89 : Yauma la yanfa'u malun wala banaa illa man atallohu biqolbin salim. ("Tidak akan bermanfaat pada hari qiyamat, harta maupun anak-anak kecuali yang datang menghadap Allah dengan membawa hati yang selamat, hati yang bersih.)
- Berdasarkan hadits dan ayat diatas :
1. Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat.
2. Dan yang paling bermanfaat bagi Allah adalah yang menghadap Allah dengan membawa hati yang bersih.

Untuk itu prioritas utama bagi orang tua adalah mendidik anak supaya menjadi manusia yang berhati bersih, berakhlaq karimah. Dan kemudian apabila dididik menjadi intelektual, dokter, profesor, maka menjadi intelektual yang berakhlaqul karimah dan akhirnya menjadi manusia yang bermanfaat.
- Orang yang pandai menurut tasawuf adalah seperti yang ada dalam Al-Qur'an dan hadits :
a. Dalam Al-Qur'an Surat. Ali Imron Ayat 190 – 191 disebutkan orang yang pandai ialah orang yang selalu dzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri maupun berbaring, dan mereka selalu berfikir tentang segela sesuatu yang diciptakan oleh Allah.
b. Dalam hadits disebutkan : Orang yang pandai ialah orang yang pandai mengendalikan hawa nafsunya.
- Adapun yang dipilih Nabi Sulaiman adalah ilmu hikmah, sehinga beliau dianugerahi ilmu juga harta, karena ilmu memang lebih utama daripada harta. Ingat kata sahabat Ali RA. : Ilmu adalah warisan para Nabi dan harta warisan Qorun, Fir'aun dan Syadad, ilmu itu menyinari hati dan harta itu mengeraskan hati. Dan ingat pula sabda Nabi : "Hikmah itu tuntutan orang mu'min. cintailah hikmah dimana kamu berada".

Dan ingat firman Allah : "Barangsiapa yang mendapat satu hikmah maka dia akan mendapatkan kebaikan yang amat banyak"
Ada dalil" Tolabul ilmi faridlotun ala Kulli Muslim" artinya Mencari ilmu wajiba tas tiap tiap orang islam. Pertanyaannya adalah ilmu yang manahkah yang wajib dicari? Apakah ilmu dunia ini seperti ilmu matematika, ilmu kedokteran , ilmu teknik dan sebagainya. Bila melihat dalil tadi jelas bahwa disitu ada kalimat "wajib" artinya suatu amalan yamg bial dilaksanakan akan mendapat pahala dan sebaliknya bila tidak dikerjakan akan mendapat dosa. Sekarang coba bayangkan bila ilmu yang diwajibkan adalah ilmu yang bersifat keduaniaan seperti diatas maka banyak orang akan mendapat dosa contoh ketika orang sudah menuntut ilmu politik maka dia harus diwajibkan menuntut ilmu kediokteran dan ilmu ilmu lainya, terus berapa biaya yang akan dikeluarkan? bagaimana dengan pak tani maka mereka juga wajib menuntut ilmu kedokteran denagan apa mereka menyontik apakah dengan pacul? Berarti kalau ilmu yang wajib dicari dalam ayat itu di artikan ilmu keduniaan itu maka hambir semua manusia tidak akan bisa dan berdosa semua. 
Dalam hadist di jelaskan" Al ilmu tsalatsatun wa ma siwa fahuwa fadlun, Ayatatun mukhamatun,Sunatun Qoimatun,au faridlotun adilatun"
Artinya: Ilmu itu ada tiga selain tiga itu adalah lebihan ( boleh dicari boleh tidak , dicari lebih utama), yaitu:
1. Ayat yang menghukumi (al Qur'an)
2. Sunnah yang tegak (Al hadist/ sunnah Nabi)
3. Ilmu bagi waris yang adil 
dari dalil di ats jelas bahwa ilmu yang wajib di cari ada tiga yaitu alqur'an al hadist, dan ilmu bagi waris. Khusus ilmu bagi waris sudah ada dalam qur' an dan hadist, jadi kita cukup mempelajari atau mengkaji qur'an dan hadist. Bila kita amalkan iNsyallah tidak berat, tidak memerlukan biaya yang besar, dan semua orang bisa mengamalkan dan mempelajarinya. Artinya tidak memberatkan. Sebenarnya kalau kita mau mengaji kita akan pandai dan terhindar dari bid'ah serta Taklid (mengikuti amalan tanpa tahu ilmunya) dan kita tidak akan asal mengartikan suatu dalil.


Bit'ah dalam islam

Ditulis oleh INDAH YULI LESTARI
Salah satu isu besar yang mengancam persatuan umat Islam adalah isu bid'ah. Akhir-akhir ini, kata itu makin sering kita dengar, makin sering kita ucapkan dan makin sering pula kita gunakan untuk memberi label kepada saudara-saudara kita seiman. Bukan labelnya yang dimasalahkan, tapi implikasi dari label tersebut yang patut kita cermati, yaitu anggapan sebagian kita bahwa mereka yang melakukan bid'ah adalah aliran sesat. Karena itu aliran sesat, maka harus dicari jalan untuk memberantasnya atau bahkan menyingkirkannya. Kita merasa sedih sekarang ini, makin banyak umat Islam yang menganggap saudaranya sesat karena isu bid'ah dan sebaliknya kita makin prihatin sering mendengar umat Islam yang mengeluh atau menyatakan sakit hati dan bahkan marah-marah karena dirinya dianggap sesat oleh saudaranya seiman. 
Yang paling mudah kita baca dari kasus tersebut adalah adanya trend makin maraknya umat Islam saling bermusuhan dan saling mencurigai sesama mereka dengan menggunakan isu bid'ah. Mari kita renungkan, apakah kondisi seperti itu harus terjadi terus menerus di kalangan umat Islam? Di beberapa negara Muslim, seperti di Pakistan, isu itu telah menyulut perang saudara berdarah antar umat Islam hingga saat ini. Sudah tak terhitung nyawa yang melayang karena pertikian seperti itu.
Mari kita simak sejenak fatwa Syeh Azhar Atiyah Muhammad Saqr yang dikeluarkan pada tahun 1997. Bahwa  sebenarnya isu bid'ah yang berkembang di masyarakat Muslim saat ini disebabkan oleh perbedaan memaknai bi'dah apakah secara etimologis (bahasa) atau terminologis (istilah). Syeh Atiyah menjelaskan lebih jauh:
Dalam kitab "Al-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Athar" karangan Ibnu Atsir dalam pembahasan "ba da 'a" (asal derivatif kata bid'ah) dan dalam pembahasan hadist Umar r.a. masalah menghidupkan malam Ramadhan  ": نعمت البدعة هذه" Inilah sebaik-baik bid'ah", dikatakan bahwa bid'ah terbagi menjadi dua, ada 1) bid'ah huda (bid'ah benar sesuai petunjuk) dan ada 2) bid'ah sesat. Bid'ah yang betentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya s.a.w. maka itulah bid'ah yang dilarang dan sesat. Dan bid'ah yang masuk dalam generalitas perintah Allah dan Rasulnya s.a.w. maka itu termasuk bid'ah yang terpuji dan sesuai petunjuk agama. Apa yang tidak pernah dilakukan Rasulullah s.a.w. tapi sesuai dengan perintah agama, termasuk pekerjaan yang terpuji secara agama seperti bentuk-bentuk santunan sosial yang baru. Ini juga bid'ah namun masuk dalam ketentuan hadist Nabi s.a.w.  diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah oleh Imam Muslim:
‏من سن في الإسلام سنة حسنة فعمل بها بعده كتب له مثل أجر من عمل بها ولا ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة فعمل بها بعده كتب عليه مثل وزر من عمل بها ولا ينقص من أوزارهم شيء
"Barang siapa merintis dalam Islam pekerjaaan yang baik kemudian dilakukan oleh generasi setelahnya, maka ia mendapatkan sama dengan orang melakukannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan barangsiapa merintis dalam Islam pekerjaan yang tercela, kemudian dilakukan oleh generasi setelahnya, maka ia mendapatkan dosa orang yang melakukannya dengan tanpa dikurangi sedikitpun" (H.R. Muslim).

Stateman Umar bin Khattab r.a. "Inilah bid'ah terbaik" masuk kategori bid'ah yang terpuji. Umar melihat bahwa sholat tarawih di masjid merupakan bid'ah yang baik, karena Rasulullah s.a.w. tidak pernah melakukannya, tapi Rasulullah s.a.w. melakukan sholat berjamaah di malam hari Ramadhan beberapa hari lalu meninggalkannya dan tidak melakukannya secara kontinyu, apalagi memerintahkan umat islam untuk berjamaah di masjid seperti sekarang ini. Demikian juga pada zaman Abu Bakar r.a. sholat Tarawih belum dilaksanakan secara berjamaah. Umar r.a. lah yang memulai menganjurkan umat Islam sholat tarawih berjamaah di masjid.
Para ulama melihat bahwa melestarikan tindakan Umar tesebut, termasuk sunnah karena Rasulullah s.a.w. pernah bersabda "Hendaknya kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaurrashiidn setelahku" (H.R. Ibnu Majah dll.) Rasulullah s.a.w. juga pernah bersabda: "Ikutilah dua orang setelahku, yaitu ABu Bakar dan Umar". (H.R. Tirmidzi dll).
Dengan pengertian seperti itu, maka menafsirkan hadist Rasulullah s.a.w. "كلمحدثة بدعة" yang artinya "setiap baru diciptakan dalam agama adalah bid'ah" harus dengan ketentuan bahwa hal baru tersebut memang bertentangan dengan aturan dasar syariat dan tidak sesuai dengan ajaran hadist.
Mengkaji masalah bid'ah memerlukan pendefinisian yang berkembang dan muncul di seputar penggunaan kata bid'ah tersebut. Perbedaan definisi bisa berpengaruh pada perbedaan hukum yang diterapkan. Tanpa mendefinisikan bid'ah secara benar maka kita hanya akan terjerumus pada perbedaan hukum, perbedaan pendapat dan bahkan pertikaian. Demikian juga mendefinisikan bid'ah yang sesat dan masuk neraka, tidaklah mudah.
Dari beberapa literatur Islam yang ada, dapat disimpulkan sebagai berikut:
Para ulama dalam mendefinisikan bid'ah, terdapat dua pendekatan yaitu kelompok pertama menggunakan pendekatan etimologis (bahasa) dan kelompok kedua menggunakan pendekatan terminologis (istilah).
Golongan pertama mencoba mendefinisikan bid'ah dengan mengambil akar derivatif kata bid'ah yang artinya penciptaan atau inovasi yang sebelumnya belum pernah ada. Maka semua penciptaan dan inovasi dalam agama yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah s.a.w. disebut bid'ah, tanpa membedakan antara yang baik dan buruk dan tanpa membedakan antara ibadah dan lainnya. Argumentasi untuk mengatakan demikian karena banyak sekali ditemukan penggunakan kata bid'ah untuk baik dan kadang kala juga digunakan untuk hal tercela.
Imam Syafi'i r.a. berkata: "Inovasi dalam agama ada dua. Pertama yang bertentangan dengan kitab, hadist dan ijma', inilah yang sesat. Kedua inovasi dalam agama yang baik, inilah yang tidak tercela."
Ulama yang menganut metode pendefinisan bid'ah dengan pendekatan etimologis antara lain Izzuddin bin Abdussalam, beliau membuat kategori bid'ah ada yang wajib seperti melakukan inovasi pada ilmu-ilmu bahasa Arab dan metode pengajarannya, kemudian ada yang sunnah seperti mendirikan madrasah-madrasah Islam, ada yang diharamkan seperti merubah lafadz al-Quran sehingga keluar dari bahasa Arab, ada yang makruh seperti mewarna-warni masjid dan ada yang halal seperti merekayasa makanan.
Golongan kedua mendefinisikan bid'ah adalah semua kegiatan baru di dalam agama, yang diyakini itu bagian dari agama padahal sama sekali bukan dari agama. Atau semua kegiatan agama yang diciptakan berdampingan dengan ajaran agama, dan disertai keyakinan bahwa melaksakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari agama. Kegiatan tersebut emncakup bidang agama dan lainnya. Sebagian ulama dari golongan ini mengatakan bahwa bid'ah hanya berlaku di bidang ibadah. Dengan definisi seperti ini, semua bid'ah dalam agama dianggap sesat dan tidak perlu lagi dikategorikan dengan wajib, sunnah, makruh dan mubah. Golongan ini mengimplementasikan hadist "كل بدعة ضلالة"  yang artinya "setiap bid'ah adalah sesat", terhadap semua bid'ah yang ada sesuai defisi tersebut. Demikian juga statemen imam Malik: "Barang siapa melakukan inovasi dalam agama Islam dengan sebuah amalan baru dan menganggapnya itu baik, maka sesungguhnya ia telah menuduh Muhammad s.a.w. menyembunyikan risalah, karena Allah s.w.t. telah menegaskan dalam surah al-Maidah:3 yang artinya " Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu", adalah dalam konteks definisi bid'ah di atas. Adapun pernyataan Umar r.a. dalam masalah sholat Tarawih bahwa "itu sebaik-baik bid'ah" adalah bid'ah dalam arti bahasa (etimologis).
Lepas dari kajian bid'ah di atas, sesungguhnya tema bid'ah merupakan tema yang cukup rumit dan panjang dalam sejarah pemikiran Islam. Pelabelan ahli bid'ah terhadap kelompok Islam tertentu mulai marak dan muncul, pada saat munculnya polemik dan konflik pemikiran dalam dunia Islam. Merespon polemik pemikiran Islam tersebut, Abu Hasan Al-Asy'ari (meninggal tahun 304 H) menulis buku "Alluma' fi al-radd 'ala Ahlil Zaighi wal Bida'" (Catatan Singkat untuk menentang para pengikut aliran sesat dan bid'ah). Setelah itu muncullah kajian-kajian yang makin marak dan gencar dalam mengulas masalah bid'ah.
Imam Ghozali dalam Ihya' Ulumuddin (1/248) menegaskan:"Betapa banyak inovasi dalam agama yang baik, sebagaimana dikatakan oleh banyak orang, seperti sholat Tarawih berjamaah, itu termasuk inovasi agama yang dilakukan oleh Umar r.a.. Adapun bid'ah yang sesat adalah bid'ah yang bertentangan dengan sunnah atau yang mengantarkan kepada merubah ajaran agama. Bid'ah yang tercela adalah yang terjadi pada ajaran agama, adapun urusan dunia dan kehidupan maka manusia lebih tahu urusannya, meskipun diakui betapa sulitnya membedakan antara urusan agama dan urusan dunia, karena Islam adalah sistem yang komprehensif dan menyeluruh. Ini yang menyebabkan sebagian ulama mengatakan bahwa bid'ah itu hanya terjadi dalam masalah ibadah, dan sebagian ulama yang lain mengatakan bid'ah terjadi di semua sendi kehidupan.
Akhirnya juga bisa disimpulkan bahwa bid'ah terjad dalam masalah aqidah, ibadah, mu'amalah (perniagaan) dan bahkan akhlaq. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa semua tingkah laku dan pekerjaan Rasulullah s.a.w. adalah suri tauladan bagi umatnya. Apakah semua pekerjaan Rasulullah s.a.w. dan tingkah lakunya wajib diikuti 100 persen, ataukah sebagian itu sunnah untuk diikuti dan sebagian bolah tidak diikuti? Apakah meninggalkan sebagian pekerjaan yang pernah dilakukan Rasulullah s.a.w. (yang bukan termasuk ibadah) dosa atau tidak? Contohnya seperti adzan dua kali waktu sholat Jum'at, menambah tangga mimbar sebanyak tiga tingkat, melakukan sholat dua rakaat sebelum Jum'at, membaca al-Quran dengan suara keras atau memutas kaset Qur'an sebelum sholat Jum'at, muadzin membaca sholawat dengan suara keras setelah adzan, bersalaman setelah sholat, membaca "sayyidina" pada saat tahiyat, mencukur jenggot. Sebagian ulama menganggap itu semua bid'ah karena tidak pernah dilakukan pada zaman Rasulullah dan sebagian lain menganggap itu merupakan inovasi beragama yang diperbolehkan dan baik, dan tidak betentangan dengan ketentuan umum agama Islam. Demikian juga masalah peringatan maulid nabi dan peringatan Islam lainnya, seperti Nuzulul Qur'an, Isra' Mi'raj, Tahun Baru Hijriyah, sebagian ulama melihat itu bid'ah dan sebagian lainnya menganggap itu bukan bid'ah sejauh diisi dengan kegiatan-kegiatan agama yang baik.  Perbedaan para ulama di seputar masalah tersebut terkembali pada perbedaan mereka dalam mengartikan bid'ah itu sendiri, seperti dijelaskan di atas.
Yang perlu kita garis bawahi lagi, bahwa ajaran agama kita dalam merubah kemungkaran yang disepakati bahwa itu kemungkaran adalah dengan cara yang ramah dan nasehat yang baik. Tentu merubah kemungkaran yang masih dipertentangkan kemungkarannya juga harus lebih hati-hati dan bijaksana. Permasalahan yang masih menjadi khilafiyah (terjadi perbedaan pendapat) di antara para ulama, tidak seharusnya disikapi dengan bermusuhan dan percekcokan, apalagi saling menyalahkan dan menganggap sesat. Mereka yang menganggap dirinya paling benar dan menganggap akidahnya yang paling selamat, dan lainnya adalah sesat dan rusak, hendaklah ia berhati-hati karena jangan-jangan dirinya telah terancam kerusakan dan telah dihinggapi oleh teologi permusuhan.

Hadist Tentang Bid’ah

Mei 3rd, 2010 by jalanku 1. Diriwayatkan dari Aisyah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda,
“Barangsiapa membuat perkara baru dalam agama kami yang bukan darinya, maka hal itu tertolak.” Hadits shahih.

====================================================
2. Diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak terdapat padanya perkara kami, maka hal itu tertolak.”

Hadits ini oleh para ulama dikategorikan sebagai sepertiga dari ajaran Islam, karena mencakup segi-segi pengingkaran terhadap perintah Nabi SAW, baik dalam masalah bid’ah maupun kemaksiatan.
====================================================
3. Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah SAW bersabda (dalam khutbah beliau),
Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru (dibuat-buat dalam agama) dan setiap bid’ah adalah sesat”

====================================================
4. Diriwayatkan oleh Muslim dari jalur yang lain, ia berkata: Rasulullah SAW pernah berkhutbah dihadapan khalayak ramai, beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya sesuai keberadaan-Nya, kemudian bersabda,
“Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru —dalam agama— dan setiap yang baru adalah bid’ah.”

====================================================
5. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, bahwa Rasulullah bersabda,
“Setiap yang baru adalah bid ah dan setiap yang bid’ah (tempatnya) di dalam neraka.”
Disebutkan bahwa Umar pernah berkhutbah dengan khutbah tersebut.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud —dengan riwayat yang mauquf dan marfu’—, bahwa ia berkhutbah, “Sesungguhnya keduanya adalah dua perkara —perkataan dan petunjuk— maka sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Ketahuilah, kamu hendaknya menjauhi perkara-perkara yang baru, karena seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru dan setiap yang baru adalah bid’ah.”

====================================================
6. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah —secara marfu’— dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
” Berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang baru. Sesungguhnya seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru, setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

====================================================
7. Diriwayatkan dari Khudzaifah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah akan terjadi keburukan setelah kebaikan sekarang ini?” Beliau menjawab,
” Ya, akan ada suatu kaum yang mengikuti sunnah yang bukan Sunnahku dan mengikuti petunjuk yang bukan petunjukku.” la bertanya lagi, “Apakah setelah keburukan tersebut terjadi keburukan yang lebih buruk lagi?” Beliau bersabda, ” Ya, seruan menuju neraka Jahanam, dan barangsiapa yang mengikutinya pasti akan menceburkannya ke dalamnya (neraka Jahanam).” Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah sifat-sifat mereka untuk kami?” Beliau bersabda, ” Tentu. Mereka berasal dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Dia bertanya kembali, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapatkan perkara tersebut?” Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah pada jamaah kaum muslim dan imam mereka.” Dia berkata, “Jika tidak ada seorang imam atau jamaah?” Beliau menjawab, ” Tinggalkanlah kelompok-kelompok tersebut semuanya meskipun kamu harus menggigit akar pohon hingga tiba ajalmu dan kamu tetap pada pendirianmu itu.” Hadits shahih.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari jalur yang lain.

====================================================
8. Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya secara langsung dari manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan ulama, sehingga apabila tidak terdapat orang yang alim, maka manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya serta memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” Hadits shahih.

====================================================
9. Rasulullah SAW juga bersabda,
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat penting. Yang pertama adalah kitab Allah, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya —dalam riwayat lain; dalamnya ada petunjuk— orang yang berpegang teguh dan mengambilnya maka ia berada di atas petunjuk, sedangkan orang yang menyimpang maka akan tersesat.”


Manfaat Asmaul Husnah

KHASIAT DAN MANFAAT ASMA’ULHUSNA 

Oleh INDAH YULI LESTARI
Kelas 3 akuntansi al muslim



  1. AR-RAHMAN (Yang Maha Pengasih)
    Dialah Allah yang mengasihi semua mahluk ciptaan-Nya tanpa kecuali. Semua mahluk yang melata, yang besar maupun kecil didarat, laut dan udara dan semua manusia baik yang ber-iman maupun tidak, yang baik maupun jahat semuanya dikasihi secara adil dan merata. Karena kasih sayang Allahlah kita dan semua mahluk yang ada dibumi ini dapat hidup terus menerus sampai datang ajal yang telah ditetapkan. Dengan kasih sayang-Nya ia mencukupkan semua kebutuhan hidup semua mahluk dialam semesta. Dengan kasih sayangnya ia menjadikan bumi ini sebagai suatu tempat yang nyaman dan aman untuk dihuni oleh berbagai mahluk hidup. Hanya saja limpahan kasih sayang ini hanya diberikan Allah pada semua mahluk selama hidup didunia saja, di akhirat kelak kasih sayang ini hanya diberikan kepada orang ber-iman yang menjadi penghuni syurga. Penghuni Neraka tidak lagi merasakan kasih sayang yang mereka dapatkan selama hidup didunia, karena mereka selama hidup didunia kafir dan engkar pada-Nya.
    Khasiatnya
    1. Menenangkan dan menentramkan hati
      Jika ada diantara anda yang selalu merasa gelisah, cemas dan terus menerus merasa tertekan, bacalah kalimat ini sebanyak banyaknya. Ketika membaca kalimat ini rasakan kasih sayang Allah, bayangkan betapa kasih sayang Allah yang telah anda nikmati selama ini, anda tumbuh sejak kecil hingga dewasa dalam kasih sayang ibu, bapa dan semua keluarga yang mengasihi. Jika anda tidak pernah merasakan kasih sayang karena berada ditengah keluarga yang memang hidup keras penuh kebencian, bacalah kalimat ini sambil merindukan sifat kasih sayang Allah. Rasakan kasih sayang Allah didalam hati dengan sepenuh jiwa baca kalimat ini sebanyak banyaknya 100x, 200x 300 x atau lebih. Insya Allah lingkungan anda akan berubah, suasana runyam akan berubah menjadi aman, atau bisa saja karena sesuatu dan lain hal yang tidak anda mengerti anda pindah kesuatu tempat yang menimbulkan rasa aman dan nyaman.
    2. Mengharmoniskan rumah tangga
      Jika karena sesuatu hal rumah tangga anda dilanda kekalutan dan prahara, mungkin suami atau istri yang selingkuh, anak menjadi brandalan dan sering berurusan dengan polisi. Selalu terjadi keributan dan perang mulut didalam rumah tangga akibat hal yang sepele, rumah terasa panas bagai dalam bara api, tiada hari tanpa adu mulut dan cekcok. Bacalah kalimat Ar-Rohman ini sebanyak banyaknya setiap selesai sholat. Kalau bisa lakukan dengan teknik penahanan napas, ketika menahan napas baca ” yaa rahman..” ketika menghembuskan napas baca do’a mohon diberikan kedamaian dan rasa kasih sayang diantara sesama anggota keluarga. (Tata cara dzikir pernapasan Asma’ulhusna dapat anda pelajari pada artikel di blog ini dengan judul “Dzikir Pernapasan asma’ulhusna “). Lakukan ini terus menerus , sampai Allah mengabulkan permohonan anda. Jangan pernah putus asa dalam memohon pada Allah, Dia pasti mengabulkan permohonan orang yang memohon pada-Nya.
    3. Menimbulkan simpati orang lain
      Jika anda rutin mewiridkan bacaan “Ar –Rahman ” setiap hari setelah selesai sholat wajib, tubuh anda akan memancarkan aura rasa kasih, yang menimbulkan rasa nyaman dan menyenangkan orang yang berada disekitar anda. Hal tersebut menimbulkan rasa simpati setiap orang yang baru berjumpa dengan anda. Insya Allah anda akan mendapat kemudahan dalam berkomunikasi dengan orang disekitar anda, jika anda sebagai pedagang, pengusaha, pebisnis atau pekerjaan lain yang memerlukan komunikasi dengan banyak orang, niscaya anda akan mendapat kemudahan yang banyak dalam menjalankan usaha anda. Baca Ar-Rahman ini minimal 100 kali setiap selesai sholat. Semakin banyak semakin besar pengaruhnya pada aura yang anda pancarkan.
    4. Dikasihi dan dicintai Allah sepanjang waktu
      Rutin melakukan wirid kalimat ” Ar Rahman ” ini juga akan menimbulkan sifat kasih sayang pada diri pelaku, sesuai dengan sifat pengasih Allah pada semua mahluk-Nya. Rasa kasih yang memenuhi jiwa akan menghilangkan sifat buruk seperti pemarah, pendendam, dengki, curang, khianat dan lain sebagainya. Sifat kasih yang muncul akan menambah kecintaan Allah padanya. Insya Allah hidupnya selalu berada dalam cinta kasih Allah sepanjang waktu didunia maupun akhirat, terbebas dari kesukaran, kesempitan dan kegelapan hidup didunia dan akhirat.


  1. AR-RAHIM (Yang Maha Penyayang)
    Dialah yang Maha Penyayang . Rahmat dan rasa kasih sayang-Nya hanya khusus diberikan kepada hamba yang ber-Iman. Dengan sifat Rahimnya ia menunjuki orang yang ber-Iman kejalan yang lurus, terpelihara dari perbuatan dosa dan maksiat yang menimbulkan kemurkaan Allah. Orang yang mendapatkan kasih sayang dari sifat Allah yang Rahim akan merasakan kebahagiaan, kenikmatan, keiklasan ketulusan yang murni. Bukan kebahagian atau kenikmatan palsu sebagaimana yang diperoleh kebanyakan manusia didunia ini. Sifat Rahim ini berlaku terus menerus selama hidup didunia maupun diakhirat. Inilah kasih sayang abadi yang dirasakan khusus oleh orang yang ber-iman kepada Allah dan kehidupan akhirat.
    Khasiatnya
    1. Membangkitkan daya tarik yang luar biasa
      Jika anda rutin mewiridkan kalimat ” Yaa Rahim ” setiap hari minal 100x setelah sholat wajib maka tubuh anda akan memancarkan aura positip yang menimbulkan daya tarik bagi setiap orang yang dekat dengan anda. Aura positip itu akan melunturkan dan meluluhkan hati orang yang semula berniat buruk pada anda. Orang disekitar anda merasa tertarik dan sayang pada anda , mereka selalu berusaha menyenangkan hati anda. Sebaiknya wirid kalimat ar-Rahim selalu digandengkan dengan ” ya Rahman” karena kedua asma’ulhusna ini memiliki karakter yang sama, sehingga pengaruhnya akan saling memperkuat. Insya Allah anda akan mendapat banyak kemudahan dalam berkomunikasi dengan orang disekitar anda, yang selanjutnya akan memperlancar urusan bisnis dan usaha anda.
    2. Menarik hati seseorang
      Jika anda hendak memikat dan menarik hati seseorang dengan tujuan yang positip, misalnya melobi rekan bisnis, atasan atau pejabat yang mengambil keputusan terhadap proposal atau barang dagangan yang anda tawarkan, bacalah kalimat “Ar –rahim tersebut sebanyak banyaknya setiap selesai sholat, 300x, 500x atau 700x. Lakukan tehnik penahanan napas ketika membaca kalimat “Ar Rahiim”, dan baca do’a agar apa yang anda inginkan disetujui ketika menghembuskan napas. Lakukan sampai hajat dan apa yang anda inginkan terkabul. Jika anda belum juga mendapatkan apa yang anda inginkan tetaplah bersabar dan istiqomah, serahkan keputusannya pada Allah, Dia pasti memilihkan yang paling baik bagi anda.
    3. Memikat pria/wanita idaman
      Amalan wirid seperti diatas (b) juga bisa digunakan untuk memikat hati wanita/pria idaman. Lakukan sholat istikharah 2 rakaat selama beberapa malam berturut-turut hingga anda mendapat ketetapan hati. Selesai sholat baca wirid yaa rahman sebanyak 300, 500 atau 700x, lakukan tehnik penahanan napas ketika membaca asma’ulhusna, dan ketika menghembuskan napas baca do’a:” Ya Allah jika dia (sebut nama wanita/pria yang anda idamkan) cocok untuk agama, kehidupan dunia dan akhirat hamba jadikanlah hati kami saling tertarik dan mengasihi. Mudahkan urusan perjodohan kami dengan semudah-mudahnya, jadikan semua pihak ridho dengan hubungan kami” . Lakukan wirid ini dengan sabar, serahkan putusannya pada Allah. Jika kenyataan yang terjadi ternyata berlawanan dengan do’a yang anda ucapkan berarti dia tidak cocok untuk anda , dan yakinlah Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Wirid Ar-Rahiim ini juga akan membebaskan anda dari rasa cinta yang berlebihan dan bayangan kekasih anda yang terus membayang sehingga menimbulkan kerinduan yang membabi buta yang dapat berakibat buruk bagi anda.
    4. Dicintai dan disayang Allah didunia dan akhirat
      Mewiridkan kalimat “Ar-Rahim ” ini setiap hari secara rutin akan menimbulkan sifat rahim didalam diri pelaku. Sama seperti Ar-Rahman wirid Ar Rahim juga akan menghilangkan watak buruk seperti pemarah, pendendam, dengki, curang, khianat dan lain sebagainya. Sebaiknya wirid kalimat Ar-Rahim selalu digandengkan dengan Ar-Rahim karena kedua Asma’ ini akan saling bantu menanamkan sifat kasih sayang pada diri anda, yang pada akhirnya juga akan menambah kecintaan Allah pada anda didunia maupun diakhirat.

  2. AL-MALIK (Yang maha Merajai)
    Dialah yang merajai segala Raja dan Orang yang berkuasa di bumi ini. Dia yang menguasai segala kekuasaan yang ada dibumi ini bahkan diseluruh alam semesta, semua jabatan, kekuasaan, kewenangan, kedudukan dan kemuliaan ada dibawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang lebih berkuasa daripada-Nya. Jika didunia ini kita banyak menjumpai orang yang berkuasa, memiliki kewenangan dan jabatan yang tinggi, memiliki kewenangan dan kekusaan mengatur segala sesuatu, maka Allah lebih kuat dan lebih berkuasa dari semua itu. Sebagai yang paling berkuasa diseluruh jagat semesta raya, maka Dialah yang kuasa pula mencabut dan memberi kekuasaan pada siapa yang dikehendakiNya
Khasiatnya
  1. Membangkitkan wibawa dan daya kepemimpinan
    Apabila seseorang mewiridkan membaca” Yaa Malik” sebanyak banyaknya atau minimal 100 x secara rutin setiap hari seudah sholat wajib, niscaya Allah akan membangkitkan sifat kepemimpinan padanya. Setiap orang akan merasa segan dan tunduk padanya, gerak geriknya berwibawa, ucapannya mengadung pengaruh yang menyebabkan orang cenderung untuk tunduk dan mematuhinya. Wirid ini sangat baik dilakukan oleh orang yang mempunyai kedudukan, jabatan atau kewenangan dalam mengatur dan mengendalikan sesuatu misalnya organisasi, perusahaan, atau suatu jabatan dalam pemerintahan.
  2. Memudahkan meniti karir atau meraih jabatan tertentu
    Bagi anda yang memiliki ambisi untuk meraih kedudukan atau jabatan tertentu dalam perusahaan, organisasi maupun pemerintahan, lakukan wirid membaca “yaa Malik sebanyak banyaknya 300, 500 atau 700 x setelah sholat. Lakukan tehnik penahanan napas ketika membaca ” Yaa Malik ” sebagaimana yang telah dijelaskan dalam artikel ” Dzikir Pernapasan asma’ulhusna “sebanyak 33x, hembuskan napas perlahan sambil membaca surat Ali Imran ayat 26-27:

    26- Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
    27- Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).” ( Ali Imran 26-27)
    Anda lakukan wirid membaca “Yaa Malik ” dengan kelipatan 33x, gunakan alat bantu tasbih 33×3 untuk menghitung, pada hitungan ke 99 cukupkan menjadi 100. Baca ” yaa Malik dalam hati sebanyak 33x sambil menahan napas, kemudian hembuskan napas sambil membaca surat Ali Imran ayat 26-27, atau diselingi dengan do’a agar Allah berkenan menolong mendapatkan jabatan yang anda inginkan. Lakukan setiap hari hingga Allah memberi keputusan pada anda mendapat jabatan tersebut, atau menggantikannya dengan jabatan lain yang lebih baik. Serahkan semua keputusan pada Allah, Dia lebih tahu apa yang paling baik untuk anda.
  3. Mendapat kemuliaan dihari berbangkit
    Orang yang rutin mewiridkan kalimat ” yaa Malik “, dihari berbangkit atau di Padang Mahsyar kelak akan dijadikan Allah sebagai orang yang mulia dan terhormat, Allah akan memperlakukannya sebagai raja yang mulia, bebas dari kekalutan, kehinaan dan kepanikan yang banyak dialami manusia dihari itu. Allah memuliakannya sebagaimana ia memuliakan Allah selama hidup didunia. Jika didunia ini kita banyak menjumpai orang yang berkuasa dan memilkiki kewenangan melakukan sesuatu, maka di Padang Mahsyar Dialah Allah penguasa Tunggal, tidak ada yang berkuasa selain Dia, dihari itu Dia akan memberi kemuliaan dan penghormatan kepada siapa yang dikehendaki. Orang yang selalu mewiridkan yaa Malik sepanjang hidupnya akan mendapat kemuliaan para Raja dihari itu.


    Manfaat Asma'ul Husna

    وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

    Artinya : “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu.” (QS. Al A’raf : 180)
    Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah swt memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Siapa yang menghitungnya maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhori)
    Al ‘Ashili mengatakan bahwa makna dari menghitung nama-nama-Nya adalah mengamalkannya bukan menghitung dan menghafalkannya karena apabila sebatas itu maka itu pun bisa dilakukan oleh orang-orang kafir maupun munafiq, sebagaimana hadits bahwa orang-orang khawarij juga membaca Al Qur’an sementara ia (bacaannya) itu melewati tenggorokan mereka.
    Ibn Batthol mengatakan bahwa menghitung bisa dilakukan dengan lisan dan perbuatan. Siapa yang mengamalkan bahwa Allah swt memiliki nama-nama khusus seperti al ahad (Maha Esa), al Muta’al (Maha Tinggi), al Qodir (Maha Kuasa) dan yang lainnya maka wajib baginya untuk meyakini dan tunduk terhadapnya. Dan Allah mempunyai nama-nama yang disunnahkan untuk diikuti didalam makna-maknanya seperti ar Rohim (Maha Penyayang), al Karim (Maha Mulia), al ‘Afwu (Maha Pemaaf) dan lainnya. Dan disunnahkan bagi hamba-Nya untuk berhias dengan makna-maknanya dalam rangka menunaikan hak mengamalkannya maka inilah makna menghitung dengan amal. Adapun menghitung dengan lisan adalah mengumpulkan, menghafal dan berdoa dengannya walaupun dalam hal menghitung dan menghafal bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman akan tetapi seorang mukmin dibedakan dengan keimanannya dan mengamalkannya. (Fathul Bari juz XIII hal 436)
    Didalam hadits yang diriwayatkan Tirmidzi disebutkan ke-99 nama tersebut yaitu :

    الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ الْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الْخَافِضُ الرَّافِعُ الْمُعِزُّ الْمُذِلُّ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ الْحَكَمُ الْعَدْلُ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ الْحَلِيمُ الْعَظِيمُ الْغَفُورُ الشَّكُورُ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ الْحَفِيظُ الْمُقِيتُ الْحَسِيبُ الْجَلِيلُ الْكَرِيمُ الرَّقِيبُ الْمُجِيبُ الْوَاسِعُ الْحَكِيمُ الْوَدُودُ الْمَجِيدُ الْبَاعِثُ الشَّهِيدُ الْحَقُّ الْوَكِيلُ الْقَوِيُّ الْمَتِينُ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ الْمُحْصِي الْمُبْدِئُ الْمُعِيدُ الْمُحْيِي الْمُمِيتُ الْحَيُّ الْقَيُّومُ الْوَاجِدُ الْمَاجِدُ الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الْقَادِرُ الْمُقْتَدِرُ الْمُقَدِّمُ الْمُؤَخِّرُ الْأَوَّلُ الْآخِرُ الظَّاهِرُ الْبَاطِنُ الْوَالِيَ الْمُتَعَالِي الْبَرُّ التَّوَّابُ الْمُنْتَقِمُ الْعَفُوُّ الرَّءُوفُ مَالِكُ الْمُلْكِ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ الْمُقْسِطُ الْجَامِعُ الْغَنِيُّ الْمُغْنِي الْمَانِعُ الضَّارُّ النَّافِعُ النُّورُ الْهَادِي الْبَدِيعُ الْبَاقِي الْوَارِثُ الرَّشِيدُ الصَّبُورُ
    Adapun terkait dengan angka 99 ini maka Imam Muslim mengatakan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa hadits tersebut—yang menyebutkan angka 99—tidaklah membatasi nama-nama Allah swt. Hadits itu tidak bermakna bahwa Dia swt tidak memiliki nama selain nama-nama yang 99 itu. Adapun maksud dari siapa yang menghitung 99 nama ini masuk surga adalah sebagai informasi tentang masuk surga dengan menghitungnya bukan informasi tentang pembatasan nama-nama-Nya, sebagaimana disebutkan didalam hadits lainnya,”Aku berdoa kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau namakan diri-Mu dengannya atau yang Engkau berkuasa tentang ilmu ghoib yang ada pada-Mu.” (Shohih Muslim bi Syarhin Nawawi juz XVII hal 7 – 8)
    al Warits adalah salah satu nama dari nama-nama Allah swt yang mengandung arti mewarisi seluruh makhluk-Nya dan Dia-lah yang kekal setelah punah seluruhnya, sebagaimana firman Allah swt :

    إِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْأَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَإِلَيْنَا يُرْجَعُونَ

    Artinya : “Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada kamilah mereka dikembalikan.” (QS. Maryam : 40)

    وَإنَّا لَنَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَنَحْنُ الْوَارِثُونَ

    Artinya : “dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.” (QS. Al Hijr : 23)
    Al Qurthubi mengatakan bahwa maksudnya adalah—Kami (pulalah) yang mewarisi—bumi dan orang-orang yang ada diatasnya, tidak ada sesuatu pun selain Kami. Semisal dengan ayat ini adalah surat Maryam ayat 40. artinya Pemilik—sebenarnya—atas segala sesuatu adalah Allah swt adapun kepemilikan hamba-hamba-Nya hanya sebatas memiliki dan jika dia meninggal dunia maka yang tertinggal hanyalah anggapan—memiliki—maka Allah swt sebagai Pewaris, dari sisi ini.” (Al Jami’i Li Ahkamil Qur’an juz IX hal 381)

    Adapun tentang apa yang anda tanyakan bahwa siapa membaca " Yaa Waarits" maka Allah SWT akan memperpanjang umurnya—wallahu a’lam—saya tidak menemukan sumbernya.
    Wallahu A’lam


Mengenai Saya

Foto saya
Bekasi, Jawa Barat, Indonesia
Nama ku Indah Yuli Lestari , lahir di Bekasi tanggal 22 Juli 1993 , Bersekolah di almuslim kelas 3 akuntansi , aku sangat menyukai kegiatan silat tapak suci.. love ALLAH , love you mam , semoga blog ini membawa manfaat untuk semua teman - teman yang melihatnya , thanks for visited

Followers